ACEH BESAR — Suasana pagi yang tenang di kawasan Darul Imarah mendadak riyuh saat Bu Ratna, salah seorang pelanggan Perumda Tirta Mountala Aceh Besar, menerima lembaran tagihan air bulanan yang melonjak fantastis dari biasanya Rp150.000 menjadi lebih dari Rp1,2 juta.
Dengan nada kesal dan prasangka adanya kesalahan pencatatan meteran oleh petugas, Bu Ratna bergegas mendatangi kantor pelayanan Perumda Tirta Mountala untuk meminta pertanggungjawaban.
Namun, bukannya diajak berdebat, petugas pelayanan justru menyambutnya dengan ramah dan mengajukan satu pertanyaan kunci: "Bu, saat seluruh kran air di dalam rumah ditutup rapat, apakah jarum atau meteran air di depan rumah masih terus berputar?"
Pertanyaan sederhana tersebut membuka pemahaman baru mengenai batas wilayah tanggung jawab jaringan air bersih yang kerap belum dipahami masyarakat luas.
Pihak Perumda Tirta Mountala menjelaskan bahwa tanggung jawab perusahaan mencakup jaringan utama hingga ke meteran air pelanggan, sedangkan seluruh pipa setelah meteran air yang masuk ke dalam rumah—termasuk ke kamar mandi, dapur, hingga tangki penampungan (toren)—merupakan instalasi dalam (persil) yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelanggan.
Kebocoran pada instalasi dalam akan membuat air terus mengalir melewati meteran selama 24 jam penuh, sehingga secara otomatis terhitung sebagai pemakaian resmi rumah tangga meskipun penghuni merasa tidak menggunakannya.
Ada beberapa "pelaku terselubung" di dalam rumah yang sering menjadi penyebab utama melonjaknya tagihan air tanpa disadari oleh pemilik rumah.
Kerusakan pada pelampung otomatis toren yang membuat air meluber keluar, katup kloset duduk yang aus sehingga air merembes halus ke lubang pembuangan, hingga retaknya sambungan pipa di dalam dinding atau bawah ubin akibat pergerakan tanah, menjadi pemicu utama terbuangnya puluhan meter kubik air bersih setiap bulannya.
Karena air bocor tersebut langsung terserap ke dalam tanah atau saluran pembuangan, pelanggan sering kali tidak melihat adanya genangan air di permukaan rumah mereka.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Perumda Tirta Mountala Aceh Besar membagikan metode deteksi mandiri yang sangat mudah dan hanya membutuhkan waktu lima menit. Pelanggan cukup mematikan seluruh kran air di rumah, memastikan tidak ada aktivitas penggunaan mesin cuci atau pengisian toren, lalu berjalan ke depan rumah untuk mengamati roda gerigi atau indikator pada meteran air.
Apabila seluruh kran dipastikan mati total namun jarum atau roda kecil pada meteran air masih terus berputar, maka dapat dipastikan 100 persen sedang terjadi kebocoran pada pipa instalasi di dalam rumah pelanggan.
Setelah mempraktikkan petunjuk tersebut di rumahnya bersama seorang tukang bangunan, Bu Ratna akhirnya menemukan titik terang atas keluhannya. Benar saja, ditemukan retakan pada pipa sambungan bawah ubin area dapur yang selama ini mengalirkan air ke dalam tanah tanpa suara dan tanpa genangan.
Pengalaman ini menyadarkannya bahwa lonjakan tagihan yang ia alami murni disebabkan oleh kerusakan pipa internal rumahnya sendiri, bukan karena kesalahan perhitungan dari petugas pencatat meteran Perumda Tirta Mountala.
Manajemen Perumda Tirta Mountala Aceh Besar mengimbau seluruh masyarakat dan pelanggan setia untuk menjadikan pemeriksaan instalasi air mandiri sebagai rutinitas berkala di rumah masing-masing.
Kepedulian dalam memeriksa kondisi pipa internal tidak hanya melindungi kantong keluarga dari lonjakan tagihan yang mengejutkan di akhir bulan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menghemat penggunaan air bersih serta menjaga kelestarian sumber daya air di Kabupaten Aceh Besar.